SINEREVIEW

Nov 17 2017 by arwuda

Chasing The Dragon: Mafia, Polisi dan Korupsi

CHASING The Dragon sebenarnya istilah untuk pecandu narkoba. Ya sedikit identik dengan judulnya film Chasing The Dragon memang berbicara tentang narkoba. Satu fase sejarah terpahit yang dialami Hong Kong berurusan dengan perdagangan obat bius. Dan tentunya suap dan korupsi.

Chasing The Dragon merupakan film remake sukses tahun 1991, To Be Number One yang mencatat angka penjualan sampai 38 juta USD. Jumlah yang sangat besar pada masanya. Kisah tentang raja mafia Ng Sek Ho atau Ho si Pincang sangat popular di kalangan gangster tahun 1960-an. Gara-gara ulah mafia seperti Ng Sek Ho, Hong Kong menetapkan darurat terhadap narkoba dan korupsi. Sejak masa pemberangusan kegiatan mafia dan menghentikan polisi korup, Hong Kong membentuk satuan khusus, Independent Commission Against Corruption (ICAC). ICAC menjadikan Hong Kong sebagai salah satu negeri yang bersih dari kasus korupsi.

Menggabungkan dua pemain besar, Donnie Yen dan Andy Lau, di satu film juga menjadi pertaruhan sutradara Jason Kwan dan Wong Jing yang juga bertindak sebagai penulis scenario. Keduanya berkompromi memberikan porsi yang sama dalam mengeksplorasi cerita Chasing.

Namun kritik justru muncul dari peran yang dimainkan Andy Lau sebagai kepala reserse Lee Rock. Karakter Andy Lau sebagai bad cop tidak utuh hadir seperti kebanyakan polisi jahat. Begitu juga Donnie Yen yang berperan sebagai Cripple Ho, atau Ho si Pincang, tak terlalu menawan. Tak ada gambaran kuat tentang sosok yang sesungguhnya kejam, meskipun masih memegang norma-norma keluarga.

Alhasil, Chasing the Dragon, kurang maksimal mengelola dua artis besarnya. Meskipun dari sisi cerita, Chasing sangat menarik. Pembuat ingin Chasing tampil manusiawi. Realita dunia hitam ditampilkan lebih alami. Begitu juga di setiap adegan laga, perkelahian terjadi seperti layaknya laga brutal. Tak perlu menghadirkan adegan laga terkoreografi.    

Kisah Chasing the Dragon bercerita tentang Ng Sek Ho yang menyusup ke Hong Kong bersama lima kerabat kampungnya. Pertemuannya dengan Sersan Lee Rock mengubah nasib Ho. Ho sepakat akan membantu Lee, begitu juga sebaliknya. Namun Lee sebagai polisi memegang kendali kerja sama kejahatan tersebut. Lee yang mengatur polisi dan pejabat, Ho mengatur dan menguasai daerah kekuasaan mafia lain.

Ho harus menghadapi penguasa dunia kejahatan, Lee menghadapi para penegak hukum lain yang mengincar jabatan dan mengganggu bisnisnya. Keduanya bahu-membahu menjadi pasangan mafia ternama. Dan jalan keduanya tidaklah mudah. Dunia kejahatan selalu menyisakan air mata, duka dan nestapa. Persis seperti kebanyakan nasihat bijak bahwa balasan selalu menanti mereka yang merusak keharmonisan. Tidak terkecuali yang dialami Cripple Ho dan kepala reserse Lee Rock.

(Sinemata/ *)

Sutradara: Jason Kwan, Wong Jing

Pemain: Andy Lau (Lee Rock), Donnie Yen (Crippled Ho), Kent Cheng, Wilfred Lau, Felix Wong, Philip Keung, Michelle Hu, Raquel Xu, Chun Wong

 

TRIVIA

Film Indonesia dengan sekuel terbanyak, juga franchise dan spin-off (sempalan cerita) adalah Catatan Si Boy. Film yang diangkat dari sandiwara radio, diproduksi pertama kali 1987. Skenario film ditulis Marwan Alkatiri dan disutradarai Nasri Cheppy. Sekuel kedua hingga kelima, diproduksi tiap tahun hingga Catatan Si Boy 5 (1991). Tahun 1991, muncul spin-off yang ditulis Marwan Alkatiri dan disutradarai Nasri Cheppy, Catatan Si Emon. Yang paling mutakhir adalah Catatan Harian Si Boy (2011) yang dianggap sebagai lanjutan kisah si Boy yang sudah berumur.