SINEREVIEW

Dec 07 2017 by arwuda

Murder on the Orient Express: Menanti Kejutan Tersangka yang Tak Terduga

LUMAYAN lama Murder on the Orient Express diproduksi ulang. Pertama tahun 1974, dan yang mutakhir 2017 atau 43 tahun lalu. Mestinya punya efek nostalgia yang kuat, nyatanya Murder yang bertabur cast menawan, tampil tak terlalu amat istimewa.

Melihat deretan ensembel pemain Murder, Kenneth Branagh, Johnny Depp, William Defoe, Judi Dench, Michelle Pfeiffer, Penelope Cruz, Daisy Ridley, mestinya Murder (2017) juga jauh lebih memikat. Kenneth Branagh – juga berperan sebagai Hercule Poirot – semestinya mampu mengeksploitasi karakter melalui kemampuan pemain-pemain kelas satu-nya. Sayang, seperti film atau FTV Murder  (2001) yang pernah diproduksi, Kenneth memilih fokus pada Hercule Poirot, sang detektif jagoan. Padahal, twist cerita hingga dramaturgi bisa dibuat jauh lebih menawan lagi.

Memfilmkan karya novel, apalagi yang popular dan klasik, memang tak mudah. Bukan masalah membandingkan mediumnya. Tapi memenuhi hasrat penonton, rasa ingin tahu, ekspektasi sampai daya pikat, ada tuntutan hasilnya kudu berlipat. Proses ekranisasi – melayarlebarkan karya novel – Murder bisa menjadi beban bagi pembuat film. Sementara sebagai karya klasik cerita Murder sudah dipahami penonton. Karena itu, pembuat Murder semestinya pembuat lebih leluasa menginterpretasi cerita. Termasuk twist cerita yang tidak hanya fokus pada sosok Poirot.

Kalau proses ekranisasi film ‘setia’ pada pakem karya novelnya, tinggal tunggu saja gelombang kritik ketidakpuasan!

Murder on the Orient Express karya Kenneth Branagh menarik dari sisi kemewahan visual. Adegan di Wailing Wall (tembok ratapan), perjalanan kereta Orient, kereta terjebak salju, sampai stasiun Poirot turun dari kereta, tampil begitu menawan. Tapi sayang keengganan menginterprestasi cerita  menjadikan Murder kehilangan daya imajinasi!

Murder bercerita tentang kematian salah satu penumpangnya, Samuel Trachette. Ia tewas mengenaskan di dalam kompartemen kereta. Kematiannya tak wajar dengan perut tercabik-cabik. Kepala perjalanan kereta, Bouc, meminta Hercule Poirot menyelidiki kemarian Trachette. Seperti galibnya aksi Poirot, ia pun menganalisis satu demi satu misteri kematian. Bak menguliti kulit bawang, Poirot berhasil membongkar misteri kematian dengan hasil yang sangat mengejutkan.

Tagline film ini: everyone is a suspect, memang menjadi kesimpulan yang pas untuk menjelaskan ending Murder. Dan satu sisipan pesan yang sangat kuat menjadi penutup yang manis buat Murder on the Orient Express. Tidak terkecuali visual panorama perpisahan Poirot dan kereta yang meninggalkan stasiun, menyisakan kesan memikat di adegan penutup film Murder.

Tidak terkecuali kehadiran kawanan polisi yang meminta Hercule Poirot segera pergi ke Mesir. Kasus di novel Death on the Nile. Sepertinya, Kenneth Branagh bakal melanjutkan petualangan Hercule Poirot ke novel Agatha Christie berikutnya. Toh sampai sebulan edar, Murder sudah mampu meraup 245 juta dolar (setara Rp 3,3 triliun).

(Sinemata/ *)

Sutradara: Kenneth Branagh

Pemain: Kenneth Branagh (Poirot), Penélope Cruz (Pilar Estravados), Willem Dafoe (Gerhard Hardman), Judi Dench (Princess Dragomiroff), Johnny Depp (Samuel Ratchett), Josh Gad (Hector MacQueen), Derek Jacobi (Edward Henry Masterman), Leslie Odom Jr. (Dr. Arbuthnot), Michelle Pfeiffer (Caroline Hubbard), Daisy Ridley (Mary Debenham), Tom Bateman (Bouc)

TRIVIA

PERFILMAN Indonesia pernah memiliki the Big Five. Lima bintang film yang sangat popular. Lima aktor dengan bayaran tertinggi, pun menguasai peran di berbagai judul film. Mereka adalah Roy Marten, Yati Octavia, Dorris Callabaut, Robby Sugara, Yenny Rachman. Di tahun 1977 misalnya, Roy Marten dalam setahun bisa bermain di 11 judul. The Big Five menerima honor yang sama sebesar Rp 5 juta.