SINEREVIEW

Mar 12 2018 by arwuda

Death Wish: Menghibur Meski Menyisakan Banyak Kekurangan

TIDAK banyak film Remake lebih berhasil dibanding pendahulunya. Banyak yang menyukai versi lama  dibanding versi ‘produksi ulang’. Death Wish salah satunya. Produksi Dino deLaurentis dengan bintang Charles Bronson lebih memikat dibanding Death Wish versi Bruce Willis. Dari hari pendapatan film sebagai salah satu buktinya.

Death Wish terseok-seok untuk mengembalikan modal produksi sebesar 30 juta USD. Bahkan dalam dua minggu rilis inetrnasionalnya masih tertekan film-film besar seperti Black Panther, Red Sparrow, Peter Rabbit, Wrinkle in Time (akan rilis), Game Night (akan rilis). Meskipun Death Wish versi Bruce Willis ini lumayan menghibur. Selain itu, cerita Death Wish juga berkorelasi denghan kekinian zaman. Media sosial menjadikan Death Wish terdukung dari sisi story-telling.

Berbeda dibanding pelampiasan dendam Paul Kersey versi Charles Bronson yang memikat karena rasa penasaran publik setelah munculnya serangkaian pembunuh misterius. Paul Kersey versi lama juga dianggap lebih brutal dibanding karakter Paul Kersey yang diperankan Bruce Willis. Inilah susahnya copy-cat dari karakter yang sudah pernah eksis dan disuka penonton. Meskipun film remake ini dibuat setelah 44 tahun kemudian.

Konsekuensi lain adalah karakter Paul Kersey saat melakukan serangkaian pembunuhan terhadap penjahat jalanan. Lama-lama penonton akan merasakan kehadiran John McClane sang polisi susah mati (Die Hard), dibanding sosok Paul Kersey. Ketangguhan Paul Kersey langsung terasosiasikan oleh sosok ‘sulit mati’-nya John McClane.

Kisah Death Wish persis seperti film produksi tahun 1974 (Death Wish 1 – dibuat sampai sekuel keempat). Paul Kersey, dokter bedah yang kehilangan sang istri dan sang anak koma di rumah sakit memutuskan mencari pelaku perampokan rumahnya. Polisi Chicago dianggap terlalu lambat dan tidak mampu berbuat banyak. Dengan pistol tanpa nomor seri, jaket ber-hoodie dan kanal media sosial, melambungkan aksi jalanan Paul Kersey. Warga juga memujanya sebagai pahlawan, seiring semakin banyaknya penjahat jalanan tewas.

Aksi Paul Kersey – untuk sementara – berhenti setelah ia menghabisi tiga berandal yang merusak kebahagiaan keluarganya. Di satu sisi, polisi hepi dengan turun drastisnya angka kejahatan. Namun mereka dianggap gagal karena tak juga menemukan pembunuh misterius.

(Sinemata/ *) 

Sutradara: Eli Roth

Pemain: Bruce Willis (Paul Kersey), Vincent D'Onofrio (Frank Kersey), Elisabeth Shue (Lucy Kersey), Camila Morrone (Jordan Kersey), Dean Norris (Detectif Kevin Raines), Beau Knapp (Knox), Kimberly Elise (Detectif Leonore Jackson)

TRIVIA

DI Thailand, sudah biasa sebelum dimulai pertunjukan konser, siaran radio dan televisi, juga film bioskop menyanyikan lagu kebangsaan Phleng Chat Thai. Hingga sekarang pun masih berlangsung. MVP Pictures mencoba melakukan ritual sama melalui Film Soekarno (2013). Sebelum film dimulai, tertulis teks yang meminta dengan hormat penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Banyak yang merespons positif, tapi tak sedikit yang menolak berdiri dan mau menyanyikan lagu kebangsaan.