SINEREVIEW

May 18 2018 by arwuda

Deadpool 2: Jagoan Menjengkelkan yang Susah Mati

INI adalah film keluarga, begitu deklarasi Deadpool a.k.a. Wade Wilson di awal film. Rating untuk tujuh belas tahun ke atas tidak berpengaruh terhadap kenyataan bahwa film ini adalah film keluarga walaupun bertebaran adegan kesadisan, kekerasan cenderung overdosis, juga verbal yang kasar dan jorok. Bukankah adalah keseharian yang juga biasa ditemui. Tapi Deadpool rilis di Indonesia dengan klasifikasi 17 tahun ke atas.

Deadpool bercerita tentang antihero yang menyebalkan. Wade Wilson (Ryan Reynolds) berusaha melindungi seorang mutan misterius yang diincar Cable (Josh Brolin). Untuk melindungi sang mutan, Wade lalu membentuk  tim bernama X-Force yang beranggotakan Deadpool, Domino, Negasonic Teenage Warhead, dan Colossus.

Tambahan segelas kesinisan, dua sendok makan candaan, satu sendok teh ironi, dan lima tetes kejutan melengkapi film ini. Makin sempurna? Yak, makin pas proporsi hiburan Deadpool 2, pas juga takaran laga dan live-actionnya. Juga makin menarik premis yang dibangun, meskipun terkesan amburadul. Penonton akan menikmati verbal terucap maupun scene laga Deadpool 2, hingga memahami pesan kekerasan di film ini.  

Deadpool 2 tidak menganggap dirinya terlalu serius dan memparodikan semua stereotipe film superhero lain. Kalau penonton pernah bermimpi berinteraksi dengan aktor-aktor di film, meneriaki mereka dan segala kebodohan penulisan cerita, film ini sangat tepat ditonton.

Meta jokes mendominasi dialog, siap membuat perut terkocok, kalau mengerti referensinya. Fans Marvel dan penyuka pop culture sepertinya akan tertawa pada tiap leluconnya. Yang bukan fans pun masih akan tergelak pada bagian lain guyonan film ini.

Rating tujuh belas tahun ke atas cocok menggambarkan film yang dipenuhi adegan kekerasan. Rasa ngilu dapat mendominasi penonton yang tidak tahan. Apalagi pertempuran dan perkelahian dilakukan secara live-action. Darah muncrat dengan efek yang diminimalisasi dapat ditemui dari awal hingga akhir film. Film ini memang bukan untuk anak-anak. Gambar-gambar diambil sesuai tujuannya. Kadang diambil secara lambat, seperti keinginan Wade yang dilontarkan kepada seluruh penonton, kembali memancing gelak. 

Editor melakukan tugasnya dengan sangat baik. Breaking the 4th wall, berinteraksi langsung dengan penonton, sebagai salah satu keunikan film Deadpool, dimanfaatkan secara maksimal tanpa mengganggu jalan cerita.

Musik pengiring begitu menghibur karena menjadi satu kesatuan dengan jalan cerita dan dialog, menjadi keunikan tersendiri. Beberapa penonton menyanyikan lagu “Tomorrow” dari musikal “Annie” yang terbawa di alam bawah sadar setelah keluar dari bioskop.

Tidak terlalu mengherankan film Deadpool sebelumnya laku keras. Sekuelnya pun diperkirakan laku keras, minimal 350 juta dolar akan dihasilkan dari pemutarannya di seluruh dunia. Deadpool 2 berhasil masuk dalam imaji dan pengalaman menonton di bioskop yang seru. Tertawa bersama satu ruangan bioskop di tiap adegannya, sudah jamak.

Semua aktor juga memainkan perannya dengan alami. Domino (Zazie Beetz), tokoh wanita di X-Force, membuat penasaran dengan keberuntungannya sebagai kekuatan super (atau bukan?). Aktor anak untuk peran Russell Collins (Julian Dennison) berperan begitu brilian, cukup mencuri perhatian sepanjang film. Tubuh gendut dan wajahnya seakan menjadi paradoks fisik dan sosok superhero.

Namun Deadpool 2 bukan tanpa kekurangan. Karakter di dalamnya tidak terlalu berkembang. Film ini juga mencoba memasukkan kesedihan di dalamnya, yang sayangnya kurang berhasil.

Secara keseluruhan film ini sangat menghibur untuk ditonton dengan isi yang tidak membodohi. Dua jam di dalam bioskop tidak akan terasa. Penonton akan mengikik di tempat duduk atau memejamkan mata spontan karena melihat darah, semua digaransi akan mendapatkan pengalaman menonton yang dinamis.

Satu catatan penting, penonton sebaiknya tidak beranjak dari tempat duduk hingga kredit selesai! Kenapa? Tontonlah, dan jawabannya akan ditemukan.

(Sinemata/ ANH)

Sutradara: David Leitch

Aktor: Ryan Reynolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Zazie Beetz, Julian Dennison, Karan Soni, T.J. Miller, Stefan Kapicic, Brianna Hildebrand, Eddie Marsan

TRIVIA

Lewat Djam Malam adalah film pertama yang berhasil memenangkan penghargaan Festival Film Indonesia pada 1955. Tidak hanya pada kategori FIlm Terbaik, tetapi juga penyutradaraan, skenario, pemeran utama pria dan wanita dan peran pembantu. Lewat film ini pula, sang sutradara, Usmar Ismail sempat dinominasikan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Film Asia