SINEREVIEW

Sep 12 2018 by arwuda

Sebelum Iblis Menjemput: Mestinya Cerita dan Plot Bisa Lebih Impresif

BUTUH tantangan besar membuat film horor yang menarik, ditonton berjubel, dinikmati, dikomentari positif dan box-office. Tantangan ini yang dihadapi pembuat film Sebelum Iblis Menjemput (SIM). Ada keinginan memenuhi standar film horor sebagai tontonan berkelas. Ada beban para pembuat film horor harus mampu melewati standar film horor berkualitas dan sfesukses seperti Pengabdi Setan.

Diakui atau tidak, pembuat SIM terobsesi menawarkan tontonan yang mampu memenuhi harapan penonton. Usaha untuk tidak menampilkan sosok setan, hantu atau iblis secara berlebihan, tidak sekadar bermain pada efek kejut, mengagetkan maupun adegan jump scare adalah cara pembuat film bisa memenuhi standar tersebut. Pilihan konsep teror mental melalui sejumlah adegan, juga menjadi alternati.   

Penonton diajak ikut merasakan teror ketakutan dan menjadi bagian dari cerita. Suasana mencekam dan menakutkan di film SIM, diyakini bakal terbangun pararel seperti yang dirasakan penonton. Sebagian  usaha pembuat, sangat berhasil. Kalau pun dianggap kurang impresif, dari keseluruhan cerita masih menyisakan plot hole. Alur cerita kurang dramatis, padahal sampai separuh film SIM masih sangat menawan. Begitu banyak planting cerita yang menarik. Cerita kebisaan Alfie (Chelsea Islan) sebagai pick-pocket adalah salah satunya.

Sayang, eksekusi cenderung antiklimaks. Sudah tak menarik lagi kesurupan yang menimpa tokoh-tokoh di film SIM. SIM menjadi klise. Perjanjian dengan setan, ilmu teluh, santet a la voodoo menjadikan SIM tak terlalu orisinal dan menjadikan ending cerita mudah tertebak.   

Bagusnya, Timo Tjahjanto punya ‘cap dagang´ sebagai pembuat film horor, slasher, psycho-thriller, penghasil adegan-adegan yang membuat tercekat penonton, jauh sebelum Pengabdi Setan sukses. Dan cap dagang ini membantu membangun atmosfer sejak penonton duduk di bangku. 

Tidak sulit menghasilkan keuntungan finansial melalui film horor yang memang on-demand. Tidak susah juga mendatangkan 200, 300, 500 ribu penonton. Atau bahkan sejuta penonton. Tapi menghasilkan film horor berkualitas, menarik, secara filmis bisa dipertanggung jawabkan, tidak semua rumah produksi atau film-maker mampu. Rumah produksi Sky Media mampu menghasilkan film bagus meski kurang impresif. Lebih dari sejuta penonton sudah cukup menjadi bukti keberhasilan SIm sebagai film laris.

Film Sebelum Iblis Menjemput berkisah tentang Lesmana yang sekarat di rumah sakit. Sejumlah masalah membuat runyam hubungan keluarga. Alfie, anak tunggal Lesmana, masih belum bisa menerima perlakuan buruk Lesmana terhadap ibunya. Lesmana yang tiba-tiba kaya raya, meninggalkan sang ibu. Lesmana menikahi Laksmi, seorang mantan artis dengan dua anak, Maya dan Ruben.

Lesmana masih memiliki rumah tua tak terurus. Rumah bisa dijual, selama Alfie mau teken penjualan warisan. Begitu banyak kenangan indah Alfie di rumah tak terurus tersebut. Namun ada peristiwa buruk yang tak diketahui Alfie, Lesmana membuat perjanjian dengan iblis. Kini sang iblis menagih janji Lesmana.

(Sinemata/ *)

Sutradara: Timo Tjahjanto

Pemain: Chelsea Islan, Pevita Pearce Samo Rafael, Hadijah Shahab, Ruth Marini, Karina Suwandi, Ray Sahetapy

TRIVIA

PERFILMAN Indonesia pernah memiliki the Big Five. Lima bintang film yang sangat popular. Lima aktor dengan bayaran tertinggi, pun menguasai peran di berbagai judul film. Mereka adalah Roy Marten, Yati Octavia, Dorris Callabaut, Robby Sugara, Yenny Rachman. Di tahun 1977 misalnya, Roy Marten dalam setahun bisa bermain di 11 judul. The Big Five menerima honor yang sama sebesar Rp 5 juta.