SINEREVIEW

Oct 02 2018 by sinematapost

Alpha : Petualangan Anak Cro-Magnon Mencari Jalan Pulang

ZAMAN paleolitikum atau zaman batu menjadi latar cerita film Alpha. Cerita tentang manusia Eropa yang disebut Cro-Magnon pada 20ribu tahun lalu. Mereka adalah kelompok nomaden, pengumpul makanan dengan cara berburu dan masih menggunakan kapak batu sebagai peralatan rumah tangga dan berburu. Kehidupan era 20ribu tahun lalu ini yang direkaulang di film Alpha.

Alpha dari sisi dramatik tidak terlalu istimewa, gaya tutur cenderung lempeng, datar-datar saja. Konsep tak jauh beda dibanding film-film drama dokumenter mutakhir. Celakanya, pujian dan rating yang disematkan untuk film ini kok rasanya overrated. Kebanyakan apresiasi yang diberikan berada di atas rata-rata.

Separuh film memperlihatkan perjuangan hidup tokoh utama diterpa ganasnya cuaca dingin. Seakan ingin mengajak penonton ikut merasakan derita sanga tokoh menghadapi ancaman cuaca dan buasnya Hyena, srigala liar dan sejenis macan salju. Tidak terkecuali banteng liar yang menjadi buruan para Cro-Magnon.

Dramatisasi adegan dibangun dengan menghadirkan beberapa kali ancaman nyawa sang tokoh utama film. Setidaknya sekadar memperlihatkan betapa susahnya masa zaman batu manusia harus bertahan hidup. Tidak terlalu meyakinkan tapi cukup menggambarkan situasinya. Alpha layaknya film drama adventure masih menyisakan kisah sedih keluarga sang tokoh yang kehilangan anak tunggalnya.  

Sedikt meragu soal pakaian yang dikenakan tokoh-tokoh di film Alpha. Dari reka kondisi masa zaman batu, manusia sudah mengenakan pakaian dari bulu binatang. Namun di film Alpha mereka mengenakan baju dari kulit binatang yang sudah terpotong rapi. Ragu apakah perkakas batu sudah bisa digunakan untuk membentuk pola pakaian seperti yang dikenakan tokoh-tokohnya.

Alpha bercerita tentang Keda anak kepala suku yang sudah dianggap dewasa dan diizinkan mengikuti perburuan. Dalam perburuan Keda dilempar banteng liar ke dalam jurang yang tak memungkinkan diselamatkan. Mereka menganggap Keda sudah tewas dan meninggalkan tubuhnya tersangkut di tebing.

Keda masih selamat dan bertahan menghadapi ganasnya alam. Mulai dari diserang srigala liar hingga menghadapi macan salju. Seekor srigala – dipanggil Alpha -- akhirnya menjadi sahabat yang menemaninya mencari jalan pulang. Tidak mudah. Cerita petualangan Keda mencari jalan pulang inilah yang menjadi sajian cerita keseluruhan film. Berjalan melintasi terpaan salju, menghadapi ancaman hewan liar, sampai tercebur dan terperangkap di danau beku, menjadi tontonan hingga akhir film.

Rasa sepi, kedinginan, perjalanan berbahaya dan ancaman kematian merupakan situasi yang ingin dibagi dan dirasakan penonton. Berhasil atau tidak, tinggal bagaimana penonton menikmati petualangan sang tokoh tunggal di film Alpha.

(Sinemata/*)

 

Sutradara: Albert Hughes

Pemain: Kodi Smit-McPhee (Keda), Jóhannes Haukur Jóhannesson (Tau), Natassia Malthe (Rho), Leonor Varela (Shaman), Jens Hultén (Xi), Mercedes de la Zerda (Nu)

TRIVIA

JEPANG dikenal memiliki film dengan sekuel terpanjang atau episode-nya. Franchise flm Godzilla (1954-sekarang) dibuat hingga 32 judul. Zatoichi, kisah fiksi jagoan pedang buta dan seorang pemijat, dibuat 26 judul di rentang tahun 1962-1989). Tora-San (1959), film franchise ini diproduksi sebanyak 28 judul hingga tahun 2003. Bahkan disebutkan, franchise Tora-San dibuat sampai 47 judul.