SINEREVIEW

Oct 19 2018 by sinematapost

Venom: Berdamai dengan Alien Pemangsa

TIDAK banyak jagoan Marvel (Marvel Cinematic Universe - MCU) bisa dituturkan dengan menarik. Untuk anti-hero sekali pun. Venom adalah anti-hero yang enak dituturkan, storytelling yang memudahkan penonton memahami tokoh ‘jahat-jahat baik’. Termasuk keinginan pembuat menjadikan Venom sebagai jagoan yang disukai penonton.

Venom seperti Deadpool, sebenarnya tokoh jahat atau musuh para jagoan. Ketika penulis menggeser sudut pandang bahwa jagoan jahat pun sesungguhnya punya cerita baik.  Ada sisi manusiawi yang terlihat sebagai jagoan penyelamat. Venom adalah jagoan yang digeser sudut pandangnya menjadi jagoan penolong. Ia adalah musuh Spiderman. Di balik kostum anti-hero, Eddie Brock – sempat menjadi teman Peter Parker (Laba-laba Merah). Karena perselisihan Eddie dipecat dan dendam terhadap Peter Parker (film Spiderman 3).

Di film Venom, Eddie Brock yang dikenal sebagai jurnalis, sekaligus anchor video berita, dipecat gara--biogara naluri investigasinya. Ia harus mewawancarai Carlton Drake, pemilik korporasi rekayasa hayati Life Foundation. Drake dicurigai menggunakan manusia dalam riset-risetnya. Beberapa korban ada dalam catatan korban yang tak kembali dan firma hukum Anne Weying, kekasih Eddie, menangani kasus hilangnya korban percobaan.

Temuan simbiote dari luar angkasa mendorong Drake melakukan eksplorasi dengan segala risiko dan biaya. Simbiote ini tak ubahnya seperti alien yang mencari inang untuk hidup. Sifat jahat simbiote akan muncul apabila inangnya tak cocok. Ia akan memangsa sang inang. Inang inilah manusia-manusia yang jadi korban percobaan perusahaan Drake.

Eddie Brock menyelidiki kasus yang menyebabkan dirinya dipecat. Ia kehilangan pekerjaan, kehilangan pacar, apartemen, hingga harga dirinya.

Sampai disini, drama kehidupan Eddie Brock makin menarik. Hanya saja, cerita superhero seperti Eddie ini sangat banyak. Bahkan sebagian besar memiliki derita yang sama seperti Eddie Brock. Ia termarjinalkan, tersisih, kehilangan semuanya, sampai titik nadir menjadi lelaki tak punya kuasa apapun. Bahkan harus meratap minta balikan dengan Anne Weying.

Setelah simbiote merasuki tubuhnya dan menjadi inang yang cocok, mulailah petualangan Eddie Brock sebagai Venom menjadi buruan Drake. Pertarungan Venom dan Drake yang kerasukan simbiote paling kuat menjadi sajian klimaks film Venom.

Selain berdamai dengan simbiote, menjadi sosok Venom juga mengembalikan sebagian milik Eddie yang hilang, harga diri juga Anne Weying. Anne membantu Venom menghadapi Drake.

Sebagian kritisi menilai Venom terlalu berisik, sulit dinikmati, bahkan kehadiran Venom sebagai anti-hero di jagad komik Marvel sesungguhnya tak terlalu dibutuhkan. Jauh lebih menarik menghadirkan Venom sebagai musuh bebuyutan Spiderman. Harapan Marvel menjadikan Venom sebagai jagoan yang membuat jatuh hati tak sepenuhnya gagal. Tom Hardy mampu menjadikan Venom anti-hero adorable. Apalagi kisah cinta tarik-ulurnya dengan Anne Weying cukup menarik.

Bagaimana pun setelah keberhasilan sebagai film box-office, Venom tetaplah menjadi jagoan yang dinanti kehadiran. Tak terkecuali menghadapi lawan seperti Carnage, simbiote merah. Marvel sudah mengisyaratkan melalui end credit-scene. Carnage dipenjara dan siap menghadapi Venom. Sepertinya tak sulit melanjutkan sekuel petulangan Venom. Pencapaian 380 juta USD selama dua minggu sudah cukup buat rumah produksi melanjutkan sekuel kisah Venom menghadapi musuh-musuhnya.

(Sinemata/*)

Sutradara: Ruben Fleischer

Pemain: Tom Hardy (Eddie Brock/ Venom), Michelle Williams (Anne), Riz Ahmed (Drake), Scott Haze, Reid Scott

TRIVIA

Festival Film Indonesia (FFI) berlangsung sejak 1955. Tapi Piala Citra diberikan sejak tahun 1966. Lalu, siapa orang perfilman penerima Piala Citra terbanyak hingga saat ini. Tercatat nama Idris Sardi (10 Citra), Asrul Sani (8 Citra), Teguh Karya & Arifin C Noer (masing-masing 8 Citra).