SINEREVIEW

Nov 26 2018 by sinematapost

Bohemian Rhapsody: Pilihan Romantisme Nostalgia Tanpa Kebaruan

WHO wants to live forever? Kalimat refrain dari lagu dengan judul yang sama, seakan menjadi penanda batas usia Freddie Mercury atau Freddy Bulsara, atau Faroukh Bulsara. Dan lagu yang direkam 1986 itu juga dihadirkan di film Bohemian Rhapsody. Sekaligus menjadi ilustrasi setelah Freddie didiagnosa positif AIDS.

Bohemian Rhapsody sukses menyeret penonton penggemar Queen masuk bioskop. Tiga minggu setelah rilis internasional, Bohemian sukses meraup 400 juta USD. Seperti fakta historis dan keterikatan emosional penonton, negara-negara yang pernah menjadi lokasi konser supergrup Queen, menjadi penyumbang pemasukan terbesar. Dua pertiga pemasukan Bohemian dihasilkan dari peredaran internasional. Sepertiga penghasilan film diraih di daratan Amerika Utara (termasuk Kanada).

Banyak penonton yang hadir ke bioskop karena keterikatan historis dan nostalgia. Nyatanya, memang romantisme lagu-lagu Queen yang ditawarkan kepada penonton Bohemian. Jadi sesungguhnya tidak beda dengan klip dengan visual montage adegan-adegan empat dedengkot sebagai tokoh utama dalam proses penciptaan karya-karya mereka. Bahwa mereka bertemu setelah band awal yang dibentuk Brian May, The Smile, bubar. Freddie langsung ambil peran sebagai frontman. Bagaimana Queen berproses hingga menjadikan Queen sebagai bagian dari British Invasion. Begitu juga keberhasilan Queen menjadi salah satu band paling sukses dari begitu banyak penampil di acara Live Aid.

Semua penonton mafhum pengulangan cerita sukses Queen. Bahkan buat die harder, sampai urusan penyimpangan kehidupan seksual Freddie Mercury pun mereka sangat paham. Alih-alih mendapatkan cerita lebih dalam, pembuat Bohemian malah mereduksi cerita penyimpangan seksual Freddie. Barangkali ada pertimbangan etis.

Porsi cerita Mary Austin, perempuan terkasih yang dituturkan menjadi inspirasi lahirnya Love of my Life, lumayan menjadi penyegar cerita. Namun twist cerita ini pun bisa diinterprestasi sebagai usaha mereduksi kisah penyimpangan kehidupan seksual Freddie Mercury. Bahkan ketika keduanya berpisah, beberapa adegan komikal sempat dimunculkan.

Tentunya, film sesukses seperti Bohemian tak hanya menghibur dan menghasilkan keuntungan besar. Sebagai film biografi. Bohemian bisa memberi tawaran melalui moral story kehidupan sang tokoh. Buruknya relasi Freddie dan sang Bapak, tak tergarap dengan baik, meski di akhir cerita dimunculkan dukungan sang Bapak terhadap keberhasilan Freddie. Kehidupan bohemian Freddie juga tak terjelaskan dengan baik, cukup metafor lirikan mata terhadap sesama jenis di pesta para gay. Tiga sobat Freddie memilih meninggalkan pesta. Tidak terjelaskan, seberapa besar peran mereka tidak mencampuri urusan kehidupan Freddie dan pasangan sesama jenisnya.

Panggung Live Aid pengumpulan dana bagi Afrika, menjadi puncak penampilan Freddie. Setelah penampilan Queen, digambarkan bahwa penyelenggara kebanjiran donasi. Pengakuan Queen sebagai band pertunjukan langsung pun disematkan setelah keberhasilan mereka sebagai band tersukses di panggung pertunjukkan. Bohemian Rhapsody ditutup dengan narasi tertulis tentang kematian Freddie.

Bohemian secara keseluruhan berhasil memikat penonton yang ingin bernostalgia dan bernyanyi bersama di gedung bioskop. Dan pembuat film menyediakan subtile lirik lagu yang bisa diikuti penonton. So tidak perlu terganggu dengan penonton di samping Anda apabila ia ikut nyanyi lagu-lagu Queen sepanjang film.

Bohemian Rhapsody juga menjadi pengakuan dan romantisme kesuksesan supergrup yang punya banyak lagu-lagu ‘abadi’. Sebut saja We’re the Champion yang selalu diputar di setiap pertandingan olahraga. Bohemian Rhapsody dengan segala keunikan diksi dan sebagai lagu terpanjang diciptakan Freddie. Tidak terkecuali We will Rock You dan Love of My Life yang melankolis.

(Sinemata/ *)

Sutradara:: Bryan Singer

Pemain:  Rami Malek (Freddie Mercury), Lucy Boynton (Mary Austin), Gwilym Lee (Brian May), Ben Hardy (Roger Taylor), Joseph Mazzello (John Deacon), Aidan Gillen (John Reid), Allen Leech (Paul Prenter), Tom Hollander (Jim Beach), Mike Myers (Ray Foster)

TRIVIA

DI Thailand, sudah biasa sebelum dimulai pertunjukan konser, siaran radio dan televisi, juga film bioskop menyanyikan lagu kebangsaan Phleng Chat Thai. Hingga sekarang pun masih berlangsung. MVP Pictures mencoba melakukan ritual sama melalui Film Soekarno (2013). Sebelum film dimulai, tertulis teks yang meminta dengan hormat penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Banyak yang merespons positif, tapi tak sedikit yang menolak berdiri dan mau menyanyikan lagu kebangsaan.